PELALAWAN, Lintasmelayu.com – Pemerintah Kabupaten Pelalawan terus menunjukkan komitmen kuat dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, salah satunya akses terhadap bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, langkah cepat dan terukur kini tengah digesa untuk menjawab persoalan kelangkaan BBM yang dirasakan masyarakat, khususnya di wilayah terpencil.
Dipimpin langsung oleh Bupati Pelalawan, Zukri, rapat koordinasi lintas sektor digelar sebagai respons atas berbagai keluhan masyarakat terkait sulitnya memperoleh BBM subsidi. Rapat ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan menjadi ruang konsolidasi kebijakan yang mempertemukan pemerintah daerah, pemangku kepentingan, serta operator energi nasional dalam merumuskan solusi nyata yang dapat segera dirasakan masyarakat.
Turut hadir dalam rapat tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Pelalawan, Tengku Zulfan, jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, kepala desa, hingga perwakilan PT Pertamina (Persero) Wilayah III. Kehadiran seluruh elemen ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan energi sebagai bagian integral dari pelayanan publik.
Dalam pemaparannya, Sekda Tengku Zulfan menegaskan bahwa persoalan BBM subsidi tidak bisa dipandang sebagai isu teknis semata, melainkan telah berdampak luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Di sejumlah wilayah di Kabupaten Pelalawan mengalami keterbatasan akses terhadap SPBU menjadi faktor utama yang menyebabkan masyarakat harus menempuh jarak jauh hanya untuk mendapatkan BBM.
Dampaknya sangat nyata. Nelayan tidak dapat melaut secara optimal karena keterbatasan bahan bakar. Petani mengalami hambatan dalam mengelola lahan dan distribusi hasil panen. Pelaku UMKM kesulitan menjalankan usaha karena tingginya biaya operasional akibat harga BBM yang melambung. Bahkan, aktivitas sehari-hari seperti mengantar anak ke sekolah pun menjadi tantangan tersendiri.
Fenomena disparitas harga pun menjadi perhatian serius. Di wilayah seperti Desa Kusuma dan Teluk Meranti, harga Pertalite dilaporkan mencapai sekitar Rp15.000 per liter. Kondisi ini tidak hanya membebani masyarakat secara ekonomi, tetapi juga membuka potensi praktik distribusi yang tidak sesuai dengan ketentuan.
Menyikapi hal tersebut, Bupati Zukri menegaskan bahwa negara, melalui pemerintah daerah, memiliki tanggung jawab untuk memastikan keadilan akses energi bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali. BBM bukan sekadar komoditas, melainkan urat nadi perekonomian masyarakat yang harus dijaga ketersediaannya.
“Ini bukan hanya soal distribusi, ini soal keadilan. Masyarakat kita berhak mendapatkan akses yang sama terhadap BBM subsidi. Jangan sampai ada yang tertinggal hanya karena faktor geografis,” tegasnya.
Langkah ini diperkuat dengan pemanfaatan teknologi melalui aplikasi Klik Pelalawan. Digitalisasi proses pengajuan kuota diharapkan mampu menciptakan sistem yang lebih cepat, transparan, dan akuntabel. Dengan sistem ini, pemerintah desa dan kecamatan dapat langsung mengajukan kebutuhan BBM berdasarkan kondisi riil di lapangan, sehingga distribusi menjadi lebih tepat sasaran.
Tidak berhenti pada aspek administratif, Pemkab Pelalawan juga mendorong inovasi dalam sistem distribusi melalui pemberdayaan koperasi desa. Koperasi, khususnya Koperasi Merah Putih, didorong untuk berperan sebagai sub-penyalur BBM di tingkat desa. Skema ini diyakini mampu memangkas rantai distribusi yang panjang serta mendekatkan akses BBM kepada masyarakat.
(ADV)

.jpg)
Posting Komentar