Basijobang, Seni Tutur Warisan Budaya Kuansing yang Terus Dijaga di Tengah Modernisasi

Basijoang senitutur Warisan Budaya Masyarakat Kuansing Riau (Foto : ilustrasi)

Pekanbaru, Lintasmelayu.com - Kesenian tradisional Basijobang merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) yang memiliki nilai seni dan pesan moral yang tinggi. Basijobang dikenal sebagai seni bertutur atau bercerita dengan menggunakan bahasa Melayu Kuantan yang disampaikan secara berirama dan penuh penghayatan.

Tradisi ini telah berkembang sejak zaman dahulu sebagai media hiburan rakyat sekaligus sarana penyampaian nasihat dalam kehidupan bermasyarakat. Basijobang biasanya diwariskan secara turun-temurun dari para tetua adat kepada generasi muda di kampung-kampung Kuansing.

Dikutip dari Jurnal Sosial Budaya UIN Suska Riau, dalam sejarahnya Basijobang berasal dari kebiasaan masyarakat Melayu Kuantan yang gemar berkumpul pada malam hari setelah bekerja di ladang atau kebun. Pada masa dahulu, kesenian ini menjadi hiburan masyarakat sebelum hadirnya televisi dan media modern.

Cerita yang dibawakan biasanya berisi kisah kehidupan, petuah adat, sejarah kampung, hingga cerita kepahlawanan yang disampaikan dengan gaya bahasa khas daerah Kuantan Singingi. Seni tutur ini umumnya dibawakan oleh satu orang pencerita utama, namun dalam beberapa pertunjukan dapat melibatkan dua hingga tiga orang untuk memperkuat dialog dan irama cerita.

Basijobang biasanya ditampilkan pada acara adat, pesta pernikahan, kenduri kampung, penyambutan tamu, serta festival budaya daerah. Pertunjukan sering dilakukan pada malam hari karena suasana lebih tenang dan masyarakat dapat berkumpul bersama menikmati cerita yang dibawakan.

Dalam penampilannya, seorang penutur Basijobang harus memiliki kemampuan menghafal cerita, penguasaan bahasa daerah, serta kemampuan memainkan intonasi suara agar penonton tertarik mengikuti alur cerita hingga selesai. Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mempererat hubungan sosial masyarakat desa.

di tengah perkembangan zaman modern saat ini, keberadaan Basijobang menghadapi berbagai tantangan. Masuknya hiburan digital dan berkurangnya minat generasi muda terhadap budaya lokal membuat kesenian ini semakin jarang dipentaskan.

Selain itu, jumlah pelaku seni Basijobang yang mampu menuturkan cerita secara lengkap juga semakin sedikit. Jika tidak dijaga, tradisi ini dikhawatirkan akan perlahan hilang dari kehidupan masyarakat Kuansing. Kondisi tersebut menjadi perhatian para tokoh adat dan pemerintah daerah untuk terus menghidupkan kembali seni tradisional ini di tengah masyarakat.

Berbagai langkah pelestarian kini mulai dilakukan, seperti memasukkan seni budaya daerah dalam kegiatan sekolah, mengadakan festival budaya, serta menampilkan Basijobang pada acara resmi daerah dan kegiatan pariwisata. Pemerintah daerah bersama sanggar seni juga berupaya mendokumentasikan cerita-cerita Basijobang agar tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang. Melalui upaya tersebut, masyarakat berharap Basijobang tetap menjadi identitas budaya Melayu Kuantan Singingi dan terus dikenal oleh anak muda sebagai warisan budaya yang berharga.

Post a Comment

أحدث أقدم