![]() |
| Oknum kiai terduga pelaku kekerasan seksual terhadap puluhan santriwati di Ponpes Pati saat diamankan polisi di Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (7/5/2026). |
Pati, Lintasmelayu.com - Kekerasan seksual di Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo, Pati, Jawa Tengah (Jateng), mendapat sorotan dari lembaga internasional Amnesty International Indonesia. Mereka mendorong pengusutan secara tuntas kasus yang melibatkan kiai cabul bernama Ashari tersebut.
”Kami mengecam keras kekerasan seksual terhadap anak di lingkungan pendidikan, termasuk di pesantren. Kasus di Pati dan Bogor mensinyalkan adanya fenomena gunung es yang sangat mendesak diusut tuntas oleh negara,” kata Deputi Direktur Amnesty International Indonesia Wirya Adiwena dikutip pada Sabtu (9/5).
Menurut Wirya, negara wajib hadir untuk mengungkap kasus tersebut dengan seterang-terangnya. Mengingat jumlah korban diperkirakan sangat banyak. Angkanya mencapai puluhan orang bahkan bisa ratusan santriwati. Pemerintah tidak boleh tinggal diam dan harus berpihak pada korban.
”Kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap integritas fisik, kehormatan dan masa depan serta mental korban,” imbuhnya.
Wirya menyatakan bahwa dampak kekerasan seksual tidak hanya bersifat fisik dan psikologis, melainkan juga sosial. Termasuk stigma dan diskriminasi di masyarakat yang kerap memperburuk situasi korban.
Karena itu, dia mengingatkan kegagalan mencegah dan merespons kasus-kasus tersebut menunjukkan lemahnya sistem perlindungan anak, khususnya di lingkungan pendidikan berasrama.
”Kami sangat menyesalkan lambannya respons aparat dalam kasus di Pati, di mana tersangka baru ditangkap dua tahun setelah laporan awal. Penundaan ini berisiko memperpanjang penderitaan korban dan menghambat akses mereka terhadap keadilan,” ujarnya.
Amnesty International Indonesia mendorong agar penegakan hukum atas kasus-kasus tersebut harus dipastikan bebas dari bias, berpihak pada korban, dan dilakukan secara cepat, profesional, dan sensitif. Mereka berharap polisi mengedepankan pendekatan berperspektif penyintas dalam seluruh tahapan penanganan kasus tersebut.
”Termasuk mencegah terjadinya retraumatisasi. Itu mencakup pemeriksaan yang sensitif gender, perlindungan privasi korban, serta dukungan yang memadai selama proses hukum berlangsung,” kata Wirya.
Sebelumnya diberitakan bahwa pelarian Ashari berakhir pada Kamis (7/5). Sempat buron dan memutus komunikasi, polisi meringkus kyai cabul itu di wilayah Wonogiri. Adalah Tim Satreskrim Polresta Pati yang berhasil membekuk pelaku kekerasan seksual terhadap banyak santriwati Ponpes Ndolo Kusumo tersebut.
Penangkapan pelaku menjadi titik terang bagi kasus kekerasan seksual yang tengah berjalan. Kapolresta Pati Kombes Jaka Wahyudi mengkonfirmasi keberhasilan timnya dalam memburu tersangka. Ashari ditangkap di daerah yang berbatasan langsung dengan Jawa Timur (Jatim) setelah mangkir dari panggilan penyidik.

Posting Komentar