Bupati Siak Sampaikan Aspirasi kepada SBY, Dialog Kebangsaan Berujung Haru



SIAK, Lintasmelayu.comPresiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hadir sebagai narasumber dalam dialog kebangsaan yang dipandu Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya. Dialog tersebut berlangsung terbuka dan dapat direkam oleh peserta yang hadir Senin, (07/09/2026)

Materi kebangsaan yang disampaikan SBY berlangsung dalam suasana penuh kesantunan dan kewibawaan. Apa yang disampaikannya seolah menjadi ruang bagi para kepala daerah untuk menyampaikan berbagai persoalan dan beban yang mereka rasakan dalam menjalankan pemerintahan di daerah.

Suasana dialog kebangsaan itu kemudian berubah menjadi haru. Sejumlah kepala daerah terlihat meneteskan air mata. Beberapa di antaranya bahkan tampak terisak, meski berusaha menahan tangis.

Situasi tersebut tidak lagi sekadar menyangkut kepentingan pribadi. Para kepala daerah menyampaikan keresahan mengenai kondisi daerah dan harapan agar persoalan yang dihadapi dapat diketahui pemerintah pusat.

"Kami kini hanya meminta apa yang menjadi hak rakyat Siak saja. Tidak lebih," ujar salah seorang kepala daerah.

Air mata pun kembali tumpah. Suasana ruangan mendadak hening. Tidak ada yang menyodorkan tisu. Para peserta seolah memberikan ruang untuk meluapkan emosi yang selama ini tertahan.

Suara tangis para kepala daerah disimak oleh seluruh peserta, termasuk SBY. Bagi masyarakat Siak, kehadiran SBY memiliki makna tersendiri karena ia merupakan satu-satunya Presiden Indonesia yang pernah berkunjung ke Negeri Istana saat meresmikan Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.

Pertemuan yang awalnya mengangkat tema kebangsaan itu kemudian berkembang menjadi ruang untuk menyampaikan berbagai persoalan daerah. Para kepala daerah seolah menitipkan aspirasi dan beban yang mereka hadapi kepada tokoh bangsa tersebut agar kondisi sebenarnya di daerah dapat diketahui dan tidak berhenti pada laporan yang hanya menggambarkan sisi positif.

Dalam kesempatan itu, SBY menegaskan bahwa dirinya tidak ingin mencampuri urusan pemerintahan. Sebagai mantan presiden, ia juga merasa tidak pantas mengkritik pemerintahan yang sedang berjalan.

"Saya tidak mau cawe-cawe. Tidak pantas bagi seorang mantan presiden untuk mengkritik. Saya tidak akan melakukan itu. No way. Saya sekarang sedang membuat buku puisi dan lebih banyak melukis. Namun, bagaimanapun, saya memahami keresahan mengenai kondisi daerah saat ini. Hal itu sudah disampaikan banyak pihak sejak tahun lalu," kata SBY.

SBY mengatakan akan berupaya mencari cara agar keresahan yang disampaikan para kepala daerah dapat diteruskan sehingga dapat ditemukan solusi bersama.

"Untuk kepentingan bangsa, tentu akan dicoba dicari cara untuk disampaikan agar ada solusi bersama. Tidak boleh ada kemacetan komunikasi dan seolah-olah tidak terjembatani. Saya nanti coba berpikir bagaimana caranya," ujarnya.

SBY juga mengajak para kepala daerah untuk tetap tabah dan tidak menyerah dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

"Tetaplah tabah. Jangan menyerah. Jangan frustrasi. Masih ada harapan. Sampaikan salam saya untuk seluruh rakyat di daerah," katanya.

Para kepala daerah yang duduk di barisan terdepan dapat melihat perubahan nada suara SBY yang mulai terbata-bata. Tokoh bangsa yang pernah memimpin Indonesia selama dua periode itu kemudian segera meletakkan mikrofon.

SBY ternyata turut menahan tangis dalam suasana haru tersebut.

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Bupati Siak Sampaikan Aspirasi kepada SBY, Dialog Kebangsaan Berujung Haru
  • Bupati Siak Sampaikan Aspirasi kepada SBY, Dialog Kebangsaan Berujung Haru
  • Bupati Siak Sampaikan Aspirasi kepada SBY, Dialog Kebangsaan Berujung Haru
  • Bupati Siak Sampaikan Aspirasi kepada SBY, Dialog Kebangsaan Berujung Haru
  • Bupati Siak Sampaikan Aspirasi kepada SBY, Dialog Kebangsaan Berujung Haru
  • Bupati Siak Sampaikan Aspirasi kepada SBY, Dialog Kebangsaan Berujung Haru

Posting Komentar